Merindukan Kepemimpinan Islam Ala Rasulullah SAW

Merindukan Kepemimpinan Islam Ala Rasulullah SAW
Merindukan Kepemimpinan Islam Ala Rasulullah SAW
Merindukan Kepemimpinan Islam Ala Rasulullah SAW
Oleh: Susanti Widhi Astuti, S.Pd 
(Guru & Pemerhati Masyarakat)

Mediaoposisi.com-Tahun 2019 ini adalah tahun pemilu, tepatnya pada 17 April mendatang akan di selenggarakan pesta demokrasi di negeri ini. Sorak soray semangat menyambut pemilu telah merata seantero nusantara.

Dari mulai kalangan politisi, pejabat hingga masyarakat menengah kebawah tak lumput menyambut datangnya Pemilihan Presiden yang di gelar lima tahun sekali. Seluruh kalangan telah menyiapkan persiapannya, tak terkecuali KPU sebagai lembaga yang di amanahkan tugas untuk menyelenggarakan Pemilu secara serentak.

Dan tahun ini KPU menyuarakan kepada seluruh warga negara Indonesia dengan tagline" Pemilih Berdaulat, Negara Kuat". Dengan harapan besar agar warga negara Indonesia menggunakan suaranya serta paska Pemilu benar-benar menghantarkan Indonesia ke arah perubahan yang lebih baik.

Pemilu kali ini juga menjadi tumpuan besar bagi rakyat Indonesia dalam mewujudkan harapan besar mereka untuk memperoleh kesejahteraan hidup.

Gelaran pesta demokrasi yang di selenggarakan tiap lima tahun sekali ini tentunya membutuhkan biaya yang sangat besar, mengingat ini adalah pemilu serentak serta pemilihan presiden juga secara nasional.

Sejak masa orde lama, orde baru hingga periode reformasi bangsa Indonesia telah berkali-kali menggelar Pemilu untuk menentukan masa depan negeri ini. Lantas bagaimanakah perkembangan demokrasi di negeri ini? Apakah membawa dampak baik bagi rakyat?

Dalam pemilu, suara rakyat sangat dibutuhkan bagi calon peserta pemilu tanpa terkecuali calon presiden dan wakilnya. Rakyat adalah objek untuk mendulang suara, sebab tanpa rakyat para calon wakil rakyat dan presiden serta wakilnya tidak mungkin bisa naik menjadi pejabat negara.

Bicara rakyat yang selama ini jadi objek dalam pemilu, tentu menarik kita bahas. Mengapa demikian? Rakyat selalu di ingat di kala pesta demokrasi di gelar. Di luar dari pada itu, urusan rakyat termarginalkan.

Memang benar demokrasi mementingkan suara rakyat, namun pada prakteknya tat kala pesta demokrasi usai maka usailah perhatian para calon yang menang menduduki jabatannya terhadap rakyat.

Selanjutnya rakyat di biarkan mengurus dirinya sendiri, rakyat di biarkan memikirkan urusan ekonominya sendiri, memikirkan urusan kesehatan sendiri, memikirkan urusan pendidikan sendiri.

Walaupun sistem hari ini memiliki jargon dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat tapi pada faktanya mereka tidak mengurus rakyat dengan baik. Terkadang para wakil rakyat bahkan pemimpin negeri ini mengatas namakan semua kebijakan yang keluar atas nama rakyat.

Namun benarkah pada prakteknya? Hanya rakyat yang bisa merasakannya, apakah sistem hari ini berpihak pada rakyat atau tidak.

Sungguh negeri yang kaya dan berlimpah sumber daya alam pada hari ini tak ubahnya seperti negri yang penuh carut marut di sana sini.

Penuh dengan permainan politik, penuh dengan kebohongan dan kepalsuan serta penuh sandiwara dan "iming-iming" kesejahteraan dan ketenangan rasanya sangat jauh panggang dari api bisa kita rasakan. Inilah sistem dimana manusia yang menentukan arah hidupnya bukan lagi sang khalik sebagai pembimbing petunjuk kehidupannya.

Mari kita bayangkan tat kala Islam menjadi penerang bagi kehidupan seluruh umat manusia. Kita akan mendapatinya di dalam kepemimpinan ala Rasulullah SAW, manusia terbaik sepanjang zaman.

Sejatinya kita sebagai seorang muslim pastilah merindukan kepemimpinan Rasulullah di tengah carut marut perpolitikan di negeri ini, kepemimpinan beliau yang telah terbukti membebaskan sekat-sekat antar jazirah arab, meruntuhkan keegoisan bangsa arab

Rasullullah adalah pintu pembuka seluruh bangsa tunduk di bawah kepemimpinan beliau yang berlandaskan tuntunan wahyu dengan pedoman hidup al-qur'an dan sunnah beliau, telah mampu berjaya di kancah dunia yang di lanjutkan oleh masa para sahabat dan khalifah setelahnya.

Rasulullah tat kala di beri amanah kepemimipinan untuk mengurusi umat, bukan tidak menempuh jalan yang terjal. Mengingat kembali sejarah bagaimana Rasulullah pertama kali mendapat wahyu dari Allah dengan surah pertamanya al-'alaq di gua hira, membuat Rasulullah merasa ketakutan.

Lantas menjumpai istrinya yaitu khadijah, yang kala itu sebagai seorang istri dari Rasulullah beliau menenangkannya dan memberi semangat agar menyambut baik perintah Allah untuk seluruh manusia.

Perjuangan Rasulullah untuk membumikan Islam tak berhenti sampai di situ, Rasulullah secara kontinyu mendakwahkan islam di mekkah, mencari nushroh (pertolongan) agar menerima dakwah beliau dan mencari wilayah yang mau diterapkan islam.

Menjelang tahun ke 10 dakwah Rasul di mekkah maka Rasul di pertemukan dengan suku 'aus dari madinah yang sedang menunaikan ibadah haji.

Dan ternyata moment ini sesuai harapan beliau, mereka ternyata sudah lama menanti pemimpin dan nabi yang telah di perbincangkan masyarakat Madinah.

Akhirnya suku 'aus menerima dakwah beliau dan siap berbaiat dengan beliau untuk mengikuti aqidah beliau yaitu Islam serta menerima kepemimpinan beliau, serta menyerahkan kekuasaan di Madinah kepada Rasulullah.

Kita bisa melihat bahwa tidak sulit pada dasarnya untuk menerima kepemimpinan Islam. Bukan seperti yang kita bayangkan yaitu harus "berdarah-darah".

Namun berkat dakwah beliau yang lurus memahamkan islam dan kemuliaan islam,  bahwa ini adalah konsekuensi keimanan dan perintah Allah bahwa Islam harus diterapkan, yang akhirnya membuat suku 'Aus dan Khajraj  tidak ragu untuk menerima Rasullulah sebagai pemimpin mereka dengan ridho di Madinah.

Maka dari pelajaran ini sebenarnya tidak butuh biaya besar untuk sebuah kepemimpinan yang di ridhoi Allah. Tidak butuh korban jiwa untuk menegakkan Islam ketika harus mengganti kekuasaan kufur kepada Islam.

Singkat cerita, tat kala Rasul berhasil berkuasa di Madinah melalui bai'at Aqabah I dan II dengan penuh gemilang Rasulullah memimpin bangsa arab dengan bijaksana tanpa memandang suku, ras, warna kulit.

Bahkan Rasulullah dalam 1 hari kepemimpinannya mampu mempersatukan kaum muhajirin dan anshar. Di dalam negara daulah yang beliau pimpin bahkan ada tiga agama yang hidup aman di dalamnya yang beliau ikat dengan piagam madinah.

Agama tersebut antara lain hidup berdampingan, seperti Islam, Nasrani, dan Yahudi. Rasulullah semasa kepemimpinannya sangat adil dan bijaksana dalan memerintah. Menjalankan kepemimpinan sesuai petunjuk ak-qur'an.

Rasulullah sangat bertanggung jawab atas urusan rakyat dan umatnya. Bahkan tat kala beliau di hujung sakaratul mautnya yang diingat adalah "umati…umati…umati".

Sungguh beliau sangat cinta akan rakyat dan umatnya. Rasulullah semasa hidupnya tidak hanya bertindak sebagai pemimpin negara namun bertindak sebagai qadhi yang menyelesaikan urusan manusia

Rasulullah tatkala sidak di pasar menemukan sendiri pedagang yang curang dalam jual beli dan curang dalam timbangan ketika melakukan jual beli kurma, dimana kurma basah dan kering di campur oleh pedagang "nakal" agar mendapat untung yang besar, maka tindakan Rasul dalam hal ini langsung menjatuhkan hukuman si pedagang agar memberikan efek jera.

Di sisi lain, kita juga bisa melihat bagaimana kebijaksananya beliau pada saat usai perang, tawanan perang yang otomatis jadi budak kala itu diperlakukan beliau dengan tidak mendzolimi mereka

Para budak di perintahkan untuk mengajarkan baca dan tulis kepada anak-anak kaum muslimin tanpa menyiksa para budak. Subhanaallah, itu hanya sedikit bukti yang bisa kita temukan dalam berbagai sirah.

Andaikan, sistem islam diberi kesempatan memimpin negeri ini dan dunia seluruhnya maka akan kita temukan keberkahan hidup dunia dan akhirat.

Kita patut mencontoh keteladanan kepemimpinan dan kebijaksanaan beliau, yang menghantarkan rahmat bagi semesta alam, karena Allah sendiri telah mengatakannya di dalam al-qur'an, surat (Al-'Anbyā') ayat 107: " Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."

Semoga konsekuensi atas keimanan kita yang menginginkan agar membumikan islam dan kepemimpinan ala Rasulullah bisa tercapai. Karena kelak apa yang kita laksanakan di dunia baik itu sesuai aturan Allah atau tidak akan dimintai pertanggung jawaban kelak.[MO/ad]


Advertisement