Akhir Tragis Tirani, Mempertahankan Tahta yang Tidak Sah

Akhir Tragis Tirani, Mempertahankan Tahta yang Tidak Sah
Akhir Tragis Tirani, Mempertahankan Tahta yang Tidak Sah
Akhir Tragis Tirani, Mempertahankan Tahta yang Tidak Sah




Oleh: Abdul Hamdi Mustafa*




Perang terakhir tengah berkecamuk di Westeros.  Pasukan oposisi Daenerys yang berkoalisi dengan Jon Snow sudah kewalahan.




Setelah bertempur hebat mempertahankan Winterfell dari jutaan zombie Whitewalker, sisa-sisa pasukan Jon dan Daenerys bersiap menaklukkan Kings Landing.




Daenerys adalah pewaris sah tahta Iron Throne. Queen Cersei yang saat ini berkuasa, merebutnya dari serangkaian konspirasi dan pemberontakan di lingkungan istana. Daenerys dengan ambisinya bertekad merebut kembali tahta Iron Throne, tinggal selangkah lagi.




Tangan kanan Daenerys, Tyrion menyarankan penakulan Kings Landing dilakukan dengan diplomasi damai. Tyrion mengira Cersei akan segera menyerahkan Kings Landing, karena tidak ingin berhadapan dengan naga berapinya Daenerys.




Tyrion juga mengungkapkan bahwa sebenarnya rakyat Weseteros tidak lagi menyukai Cersei yang memerintah dengan tirani. QCersei hanya peduli dengan kekuasannya, segala cara ia lakukan demi tetap berkuasa, tidak peduli meskipun rakyatnya menderita.




Kata Tyrion, pasukan Daenerys cukup menangkap Cersei tanpa perlu berperang mengorbankan rakyat yang tak berdosa.




Namun perkiraan Tyrion salah, Cersei sangat licik. Cersei menyadari kelemahan sisa-sisa prajurit Daenerys. Ia memperkuat istananya dengan bantuan prajurit bayaran dari Golden Company.




Pada serangan pertama, armada laut Cersei berhasil membunuh satu dari dua naga Daenerys yang tersisa. Salah satu orang terdekat Daenerys juga ditangkap dan dieksekusi.




Daenerys sangat marah, ia tidak lagi mendengarkan masukan dari Tyrion. Kemudian ia mengatur siasat untuk menjatuhkan Kings Landing dengan idenya sendiri.




Daenerys tak akan lagi memakai cara belas kasihan. 




Benar saja, ia menyerang pusat kota dengan naganya Drogon. Pasukan Cersei kocar-kacir, rakyat Kings Landing ketakutan berlarian menyelamatkan diri.




Padahal pasukan darat Jon Snow sudah diberitahu oleh Tyrion, jika lonceng besar Kings Landing berdentang. Pertanda kota sudah jatuh dan Cersei menyerah.




Jon Snow dan pasukannya menghentikan penyerangan saat lonceng berdentang, pasukan Cersei menyerah dan melemparkan pedang ke tanah.




Namun ketidakwarasan sudah menjangkiti Daenerys, ia tetap membabi buta membumi hanguskan Kings Landing. Semburan api naga Drogon membakar orang-orang tak berdosa, meluluhlantakkan istana Cersei. Cersei mati dalam reruntuhan istananya.




Begitulah akhir dari Cersei, ratu yang memerintah dengan tirani, yang bukan pewaris sah tahta Iron Throne. Pemerintah yang tak peduli dengan rakyatnya, hanya peduli bagaimana terus berkuasa.




Cersei masih angkuh di saat terakhirnya, padahal rakyat tak lagi mendukungnya. Keyakinannya akan mengalahkan Daenerys berakhir tragis.




Rakyat tak berdosa jadi korban karena keegoisan Cersei mempertahankan tahtanya yang tidak sah. 




Demikianlah kisah dari Westeros. Kisah petahana yang mendapatkan kekuasaan dengan cara tidak sah dan penuh kecurangan. Sudah menyadari bahwa rakyatnya tak lagi suka dia namun tetap berupaya mempertahankan pemerintahannya. Sudah menyadari akan dikalahkan oposisi namun tak mau beranjak dari istana.




Kekuasaan yang harusnya bertransisi dengan damai berujung kekacauan, rakyat tak berdosa jadi korban. Tirani pun tumbang.




Semoga penetapan pemenang pilpres 2019 tidak berakhir seperti alur /plot season final serial terbaik dunia, Game of Thonres. Valar Morghulis!




*) Penulis adalah pegiat media sosial





Advertisement