Kontroversi Film Kucumbu Tubuh Indahku : Antara Seni dan Bisikan LGBT

Kontroversi Film Kucumbu Tubuh Indahku : Antara Seni dan Bisikan LGBT
Kontroversi Film Kucumbu Tubuh Indahku : Antara Seni dan Bisikan LGBT
Kontroversi Film Kucumbu Tubuh Indahku : Antara Seni dan Bisikan LGBT
Oleh: Maziyahtul Hikmah S.Si.
Praktisi Pendidikan

Mediaoposisi.com-Film Kucumbu Tubuh Indahku adalah film garapan Garin Nugroho yang  mengisahkan perjalanan batin berliku seorang penari Lengger Lanang, namun dalam film ini Garin lebih penghakiman sepihak oleh masyarakat terhadap Arjuno, sang penari Lengger Lanang yang memiliki kesulitan dalam mengekspresikan gendernya.

Film ini meskipun mendapat beberapa penghargaan internasional, termasuk dari Italia, Prancis, Australia, dan Meksiko, ternyata malah memantik perdebatan ketika diputar di Tanah Air. Film yang sudah diputar di lebih dari 30 festival film di seluruh dunia ini kini memicu munculnya petisi penolakan di Indonesia.

Petisi yang dimuat di Change.org itu ditujukan kepada Komisi Penyiaran Indonesia dan sudah ditandatangani lebih dari 5.800 orang pada Jumat 26 April lalu. Isinya adalah himbauan untuk memboikot film ini, yang dinilai mendukung kehadiran lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT)

Seni menurut Ki Hajar Dewantara adalah hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan perasaan indah orang yang melihatnya, oleh karena itu perbuatan manusia yang dapat mempengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah itu seni.

Film merupakan satu dari berbagai macam ekspresi seni. Islam mengatur agar seni harus senantiasa tunduk di bawah hukum syara', Kenapa? Karena seni merupakan ekspresi dari perasaan, dan tabiatnya perasaan adalah cenderung melebih-lebihkan atau malah mengurangi esensinya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya.

Dan ada pun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 37-41).

Ini bukan kali pertama aktivis budayawan menganggap pemikiran Islam sebagai pemikiran kolot. Aktivis budayawan menganggap bahwa paradigma yang  ada dalam  agama Islam telah mengkebiri  perkembangan kebudayaan.

Padahal kebudayaan menurut mereka merupakan salah satu ikon unggulan Indonesia bagi wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia.

Sejarah islam mencatat , islam adalah  peradaban yang kaya akan kebudayaan dan kesenian. Al Qur’an sebagai kitab suci, memiliki nilai sastra yang sangat tinggi. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa islam sangat menghargai seni.

Islam menghargai seni dan kebudayaan, tetapi islam menjadikan seni dan kebudayaan berjalan seiring dengan syariat islam. Lebih jauh lagi islam menjadikan seni sebagai pengokoh bangunan peradaban islam.

Diputarnya film ini meskipun di balut dengan seni, disadari atau tidak di dalamnya sarat akan bisikan untuk memaklumkan komunitas yang menurut mereka terjebak dalam tubuh yang salah. Padahal Allah  sebagai Al-Mudabbir, tidak pernah salah dalam mendesain ciptaan-Nya.

Sistem pergaulan sekuler yang memisahkan antara kehidupan agama dan kehidupan adalah akar dari munculnya banyak perilaku menyimpang di masyarakat. Perilaku  transgender adalah perilaku yang dilaknat dalam Islam.

Ibnu Abbas ra mengatakan: Rasulullah SAW telah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Seni harusnya mampu menjadi media edukasi dan dakwah yang dengannya islam semakin kuat dan mampu menjadi sarana dalam menanamkan akidah islam kepada anak sedini mungkin kemudian mampu menjadi penopang kekuatan umat dalam menegakkan syariat islam.

Ingatlah sebelum kita mengatakan kita adalah manusia yang berbudaya jauh lebih dulu dari itu kita adalah manusia yang berketuhanan. Karena kita ada di dunia ini atas izin Allah.[MO/ad]


Advertisement