People Power Tidak Akan Menghasilkan Perubahan Hakiki

People Power Tidak Akan Menghasilkan Perubahan Hakiki
People Power Tidak Akan Menghasilkan Perubahan Hakiki
People Power Tidak Akan Menghasilkan Perubahan Hakiki
Gambar: Ilustrasi
Oleh: Agustin Satyawati

Mediaoposisi.com-"People Power" adalah gerakan massa yang turun ke jalan untuk menyuarakan atau menuntut perubahan dalam pemerintahan termasuk di dalamnya pergantian kepemimpinan. People power diwujudkan dalam bentuk perlawanan damai yang ditandai dengan demonstrasi jalanan setiap hari sebagai bentuk kekecewaan dan hilangnya rasa kepercayaan rakyat terhadap rezim.

Awal peristiwa people power mengacu pada revolusi sosial damai yang terjadi di Filipina sebagai akibat dari protes rakyat melawan Presiden Ferdinand Marcos yang telah berkuasa 20 tahun. Protes dimulai saat Corazon Aquino, istri pemimpin oposisi Benigno Aquino, Jr, meluncurkan kampanye anti kekerasan untuk menggulingkan Marcos.

Dalam kontek konstitusi, people power atau kekuatan rakyat adalah konsitusional. Setiap rakyat punya hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Penyampaian pendapat itu adalah hak azasi setiap orang atau yang dikenal dengan istilah HAM (Hak Azasi Manusia).

Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) pasal 28E ayat 3 berbunyi, "Setiap orang berhak atas kebebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat".

Atas dasar pasal 28E ayat 3 di atas maka menyampaikan pendapat di muka umum, berserikat dan berkumpul untuk membentuk sebuah kekuatan pendapat dalam bentuk rapat-rapat umum dan mimbar bebas adalah sah secara konsitusional.

People Power dalam konteks di atas adalah sah secara HAM dan konstitusi. Maka, perkumpulan rakyat di muka umum untuk menyampaikan pendapat dan pikiran dalam kerangka bernegara adalah tindakan sah yang perlu dilakukan oleh setiap warga negara dan aparat negara wajib melindungi pelaksanaannya.

Wacana people power di Indonesia, dicetuskan politikus Partai Amanat Nasional, Amien Rais. Ia mengatakan, akan mengerahkan massa atau people power untuk turun ke jalan jika mereka menemukan kecurangan dalam pilpres 2019. "Kalau kami memiliki bukti adanya kecurangan sistematis dan masif, saya akan mengerahkan massa untuk turun ke jalan, katakanlah Monas, dan menggelar people power," kata Amien. Amien menuturkan, dia memilih menggerakkan people power ketimbang menggugat hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi. Bekas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini menyatakan tak percaya dengan MK (Tempo.co).

Akankah people power ini bisa terwujud?

Bagaimana sebenarnya jalan (thariqah umat) menuju perubahan hakiki dalam Islam ?

Islam adalah agama sempurna dan paripurna. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai pembawa risalah untuk menyampaikan dan menyebarluaskannya dalam rangka mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam. Dari sinilah, penting dipahami oleh seluruh kaum muslim untuk ittiba' bagaimana jalan (thariqah) Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa salam berdakwah serta menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara? Siapa lagi yang akan dicontoh dalam berdakwah jika bukan dakwah Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa salam yang mengantarkan tegaknya daulah Islam?

Tiga tahapan dakwah ini didasarkan pada dalil-dalil yang qath’i. Akan tetapi, ada sebagian rincian dalam ketiganya yang diriwayatkan dengan riwayat zhanni. Misal, tentang rincian tatsqîf (pembinaan) secara sembunyi-sembunyi. Rincian tentang pengumuman dakwah dan sebagian rincian tentang ash-shirâ’u al-fikri dan al-kifâhu as-siyâsi.

Juga rincian tentang hijrah dan penegakan Daulah setelah Baiat Aqabah II. Sebagian rincian ini didasarkan pada dalil-dalil zhanni yang shahih. Siapa saja yang men-tadaburi kitab-kitab dan dalil-dalil kami, niscaya dia memandang bahwa tiga tahapan tersebut dalil-dalilnya qath’i dan sebagian rinciannya didasarkan pada dalil-dalil zhanni yang terpenuhi secara istinbâth.

Tharîqah dakwah dalam menegakkan Khilafah mencakup tiga tahapan yang dipraktikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam di Makkah mulai dari pembinaan hingga berhasil menegakkan Daulah Islam di Madinah secara global. Hal itu ditunjukkan oleh dalil-dalil sebagai berikut:

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam menyeru orang-orang secara rahasia pada awal dakwahnya sekitar tiga tahun. Beliau membina kaum Muslim di Dar al-Arqam bin Abi al-Arqam.

Kemudian, beliau menyerukan dakwah secara terang-terangan setelah turun firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

فَٱصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
"Karena itu sampaikanlah secara terang-terangan segala perkara yang telah diperintahkan kepada kamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (TQS al-Hijr [15]: 94)

Ayat tersebut, secara qath’i tsubût dan qath’i dilâlah, menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, sebelum ayat tersebut turun, berdakwah secara rahasia. Setelah ayat ini turun, beliau mengumumkan dakwah secara terang-terangan. Sejak itu, beliau melakukan ash-shirâ’u al-fikri (pergolakan intelektual) dan al-kifâhu as-siyâsi (perjuangan politis) hingga akhirnya beliau melakukan thalab an-nushrah.

Saat melakukan ash-shirâ’u al-fikri, beliau menjelaskan kebatilan ibadah menyembah berhala. Beliau juga menegakkan hujjah atas orang-orang kafir. Ayat-ayat terkait hal itu banyak di antaranya:

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (TQS ath-Thur [52]: 35)

“Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat itu? Padahal, Allahlah Yang menciptakan kalian dan apa yang saja yang kalian perbuat.’” (TQS ash-Shafat [37]: 95-96)

Allah berfirman, “Janganlah kalian menyembah dua tuhan. Sungguh Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu hendaklah kepada-Ku saja kalian takut.” (TQS an-Nahl [16]: 51)

"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak. Sekali-kali tidak ada pula tuhan (yang lain) beserta Dia. Kalau ada tuhan beserta Dia masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang dia ciptakan. Lalu sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa saja yang mereka sifatkan itu." (TQS al-Mu’minun [23]: 91)

“Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan Yang bergantung kepada Dia segala sesuatu. Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (TQS al-Ikhlas [112]: 1-4)

“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Kalian pun bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Kalian pun tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalian agama kalian. Untuk aku agamaku.’”  (TQS al-Kafirun [109]: 1-6)

Masih banyak ayat-ayat lainnya.

Adapun al-kifâhu as-siyâsi ditandai dengan ayat-ayat yang turun untuk melemahkan mimpi mereka, klaim-klaim, dan berbagai kesesatan mereka. Ayat-ayat dalam hal itu juga banyak. Di antaranya:

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah bagi dia  harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (TQS al-Masad [111]: 1-5).

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakan dirinya. Aku menjadikan bagi dia harta benda yang banyak dan anak-anak yang selalu bersama dia. Aku pun melapangkan bagi dia (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya. Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak. Sebab sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Quran). Aku akan membebani dia dengan pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang dia tetapkan). Karena itu, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermuka masam dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia Aku akan memasukkan dia ke dalam Neraka Saqar. Tahukah kamu apakah Neraka Saqar itu? Neraka Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Neraka Saqar adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).’” (TQS al-Muddatstsir [74]: 11-30)

"Janganlah kamu mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela. Yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang banyak menghalangi perbuatan baik. Yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar. Selain itu yang terkenal kejahatannya  karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Jika dibacakan kepada dia ayat-ayat Kami, dia berkata: ‘(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.’ Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai-nya." (TQS al-Qalam [68]: 10-16)

Masih banyak ayat-ayat lainnya.

Adapun thalabu an-nushrah dari ahlul quwah wa al-man’ah, Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa salam meminta dari kabilah-kabilah yang kuat. Beliau mengutus Mush’ab bin Umair ke Madinah dan kaum Anshar mememberikan nushrah-nya. Lalu, terjadilah Baiat ‘Aqabah II. Berikutnya, beliau menegakkan Daulah Islamiyah pertama di Madinah Munawarah.

Demikianlah, sesungguhnya perubahan yang harusnya ditempuh sebagai bangsa yang mayoritas muslim. Bukan sekedar perubahan dengan mengganti orang tapi juga sistem yang mengatur kehidupan ini yaitu sistem Khilafah 'ala minhaaji nubuwwah yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan warisan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Wallohu'alam bishawab. [MO/ms]


Advertisement